Dalam al-Mathnawi, Rumi mengkiaskan orang berusaha ibarat singa rimba, orang yang berserah tanpa berusaha ibarat haiwan kerdil. Lalu berlakuLah dialog antara mereka berdua;

.

Si kerdil berkata;

"Tidak ada pekerjaan lebih baik dari tawakkal kepada Tuhan.

Pekerjaan apa lagi yang lebih menyenangkan Tuhan selain menyerah?

Manusia sering terlepas dari satu bahaya, namun kemudiannya jatuh pula ke dalam bahaya yang lain.

Terhindar dari ular, namun terserempak pula dengan naga".

.

Singa rimba menjawab;

"Ya. Tetapi bukankah Tuhan telah memasang tangga di hadapan kita,

setahap demi setahap kita harus mendaki hingga sampai di puncaknya,

Menjadi jabari (hanya berserah) ibarat menggantungkan harapan hampa.

Kalian punya kaki, kenapa dibiarkan lumpuh?

Kalian punya tangan, kenapa enggan direntangkan?

Kepasrahan ibarat tidur di tengah perjalanan,

Jangan tidur! Sampai kalian melihat pintu gerbang,

Jangan tidur, kecuali di bawah pohon yang sarat dengan buah yang ranum,

hingga setiap kali angin mengguncang dahan, pohon itu berkenan menjatuhkan buahnya ke atas kamu,

Jika kalian ingin berserah, berserahlah dengan karyamu,

tebarkan benih, lalu serahkan (segalanya) kepada Tuhan yang maha kuasa".

 

#sumber; RENUNGAN MISTIK JALAL AD-DIN RUMI, R. Mulyadhi Kartanegara, m.s. 67.